Dalam usaha mengembangkan potensi wisata kelurahan Pakelan, sejumlah kawasan di dalam lingkup kelurahan Pakelan akan dikembangkan menjadi Kampung Heritage, Kampung Pecinan, dan Kampung Jawa. Setiap kampung tersebut direncanakan akan mengunggulkan keunikan dan ciri khas dari masing-masing etnis yang tinggal bersama di kelurahan Pakelan, kemudian ciri khas dari kedua etnis tersebut akan digabungkan di kampung heritage yang saat ini sudah dipasangi lampu dengan deain yang estetik. Selain lampu dengan desain yang estetik, di kampung heritage yang berlokasi di sepanjang Jl. Monginsidi juga ikut dipasang kata-kata mutiara yang ditulis menggunakan aksara Jawa dan Tionghoa untuk menunjukan kerukunan masyarakat Pakelan yang berbeda baik secara etnis maupun kepercayaan. Selain mempromosikan kelurahan Pakelan sebagai kampung heritage, melalui lampu-lampu ini masyarakat yang tinggal di kelurahan Pakelan diperbolehkan memasang iklan di tempat-tempat strategis yang sudah disediakan, sehingga tidak hanya mendongkrak popularitas kelurahan Pakelan, tapi juga ikut mengangkat perekonomian masyarakat. Selain lampu, di jalan Monginsidi juga terdapat Gi Kie Kong Soe yang merupakan tempat bersemayamnya jenazah sebelum dikirim ke krematorium untuk di kremasi .

Gie Kie Kong Soe

Di kelurahan Pakelan yang didominasi oleh etnisTionghoa, terdapat sebuah duka yang dikelola oleh Perkumpulan Rukun Sinoman Dana Pangrukti, bangunan ini bernama Gi Kie Kong Soe. Gedung yang digunakan untuk menyemayamkan jenazah sebelum dikirim ke krematorium ini, berdiri pada 25 Agustus 1875. Meskipun digunakan untuk keperluan tersebut, bangunan ini juga menyimpan banyak nilai-nilai sejarah, salah satunya adalah adanya prasasti yang berisi nama-nama orang Tionghoa yang memberikan sumbangan dalam pembangunan bangunan ini. Selain prasasti tersebut, di dalam ruangan gedung ini, tersimpan banyak perabotan-perabotan kuno yang dirawat dengan baik. Selain perabotan berupa meja, kursi, vas dan berbagai perabotan lainnya yang tersimpan di dalam gedung ini, pada dinding-dindingnya juga terdapat lukisan-lukisan bergaya Tionghoa terpajang di sekeliling ruangan. Pada masa pemerintahan presiden Soeharto, lukisan-lukisan ini sempat ditutup dikarenakan situasi politik yang panas pada masa tersebut. Saat ini lukisan-lukisan di Gie Kie Kong Soe sudah dapat dilihat secara langsung, namun karena pada masa orde baru lukisan-lukisan tersebut ditutupi, kondisi lukisan-lukisan tersebut saat ini dalam keadaan yang rusak namun masih dapat dilihat keindahan lukisan khas Tionghoa. Bangunan yang didirikan pada tanggal 25 Agutus 1875 ini, dinyatakan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) pada 1 Juni 2011. Konstruksi bangunan ini menggunakan kayu sebagai bahan utamanya. Selain daya tarik pada konstruksi bangunan, gedung ini juga memiliki daya tarik lain, yaitu keberadaan 2 buah kereta kuda denga gaya Tionghoa yang digunakan untuk membawa jenazah dari Gi Kie Kong Soe ke krematorium yang berlokasi di gunung Klotok. .

Dalam perencanaan pembangunan kelurahan Pakelan, lokasi sepanjang jalan Yos Sudarso rencananya akan digunakan sebagai kampung pecinan yang lebih menonjolkan bangunan-bangunan berarsitektur Tionghoa dikombinasikan dengan toko-toko milik perusahaan tahu takwa yang berjejer di tepi jalan. Selain keberadaan toko pusat oleh-oleh yang berjejer rapi di sepanjang jalan Yos Sudarso, terdapat bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang sangat kental, yaitu Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Selain keberadaan klenteng dan toko pusat oleh-oleh khas kota Kediri, tepat di sebelah jembatan Braijaya terdapat sebuah jembatan lama yang masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Jembatan tersebut bernama Brug Over den Brantas te Kediri atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama jembatan lama.

Klenteng Tjoe Hwi Kiong

Salah satu bangunan yang sudah disahkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah adalah Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Bangunan ini digunakan sebagai tempat ibadah bagi umat Tri Dharma (San Jiao), yaitu bangunan tempat peribadatan 3 agama yang terdiri dari Taoisme, Buddha, dan Khonghucu. Klenteng Tjoe Hwie Kiong dibangun dengan menghadap ke sungai Brantas dan mengarah langsung ke arah barat. Meskipun diperuntukan sebagai tempat peribadatan, klenteng ini juga menerima kunjungan dari masyarakat umum yang ingin menikmati keindahan bangunan khas arsitektur Tionghoa yang terjaga dengan baik. Selain arsitektur khas Tionghoa yang terawat dengan baik, pada bangunan klenteng yang didirikan pada tahun 1817 ini juga terdapat kesenian wayang “Po Tay Hie”. Kesenian wayang Po Tay Hie atau bisa disebut juga wayang kantong ini diselenggarakan dalam rangka perayaan ulang tahun Dewi Samudra Makco. Selain pagelaran wayang Po Tay Hie, klenteng ini juga memiliki kesenian Barongsai yang juga dikelola oleh yayasan Tri Dharma.

Tidak hanya memiliki bangunan-bangunan bersejarah, kelurahan Pakelan juga memiliki sebuah jembatan peninggalan masa kolonialisme Belanda yang membentan diaas sungan Brantas. Jembatan peninggalan klonialisme belanda tersebut bernama Brug Over den Brantas te Kediri atau lebih dikenal oleh msyarakat kelurahan Pakelan dengan nama jembatan lama. Jembatan ini memulai pembangunannya pada tahun 1855 dan diresmikan oleh pemerintah kolonial pada 18 Maret 1869. Selain sudah berdiri sejak masa pemerintah kolonial Belanda hingga saat ini, jembatan yang menghubungkan kota Kediri yang dilewati oleh sungai Brantas ini juga menjadi jembatan pertama di Indonesia yang memiliki konstruksi besi.

Dalam perencanaan program pengembangan desa, kawasan jalan Trunojoyo akan dikembangkan sebagai kawasan kampung Jawa. Kawasan jalan Trunojoyo yang dikembangkan sebagai kampung Jawa ini, lebih menonjolkan corak masyarakat Jawa melalui kulinernya yaitu soto Pakelan Ny. Sien dan perusahaan tahu takwa Bah Katjoeng. Selain melalui kuliner, di jalan ini juga terdapat kelompok kesenian jaranan “Putro Kusumo Trunojoyo” yang rutin melaksanakan pertunjukan setiap tahunnya.

Kediri dikenal luas dengan julukan kota tahu karena menjamurnya perusahaan-perusahaan tahu yang memproduksi tahu di kota Kediri. Kemunculan tahu di Kediri dipelopori oleh perusahaan tahu Bah Katjoeng, perusahaan ini didirikan oleh Lauw Soen Hoek atau yang biasa dikenal dengan nama Bah Ktjoeng (Bah Kacung) pada tahun 1912. Pada awalnya, usaha tahu milik Bah Katjoeng berlokasi di jalan Pattimura Kediri. Penggunaan nama Bah Katjoeng sendiri merupakan kebiasaan orang-orang Madura yang tinggal di jalan Pattimura saat memanggilnya dengan panggilan “Bah”. Perusahaan tahu ini diteruskan oleh Lauw Sing Hian atau Yosef Seger Budisantoso selaku anak dari Lauw Soen Hoek yang meninggal pada tahun 1963. Saat ini, perusahaan tahu Bah Katjoeng diteruskan oleh anak dari Lauw Sing Huan yang bernama Herman Budino sepeninggal ayahnya yang meninggal pada 2008. Selain itu, Bah Katjoeng juga membuka cabang di Jl. Yos Sudarso yang relatif lebih ramai dibanding lokasi yang lama di Jl. Trunojoyo.

Selain ada kesenian jaranan dan tahu takwa Bah Katjoeng, di jalan Trunojo juga memiliki Soto Pakelan Ny. Sien yang cukup terkenal di kota Kediri. Restoran ini didirikan pada tahun 1990 dan berlokasi di pertigaan jalan Trunojoyo dan jalan Untung Suropati. Soto Pakelan Ny. Sien ramai dikunjungi oleh pegawai kantoran, wisatawan, maupun warga biasa yang ingin menikmati cita rasa soto Ny. Sien yang gurih yang disajikan dengan mangkuk yang memiliki desain klasik.

Kantor Kelurahan Pakelan

Kantor Kelurahan dulunya menjadi tempat sekertariatan orang Tionghoa, sejak sebelum tahun 1900. Bangunan ini didominasi oleh corak China dan Belanda. Mulanya  bangunan ini juga digunakan sebagai tempat latihan barongsai dan naga. Pada waktu itu, kantor kelurahan ini juga digunakan sebagai Sekolah Dasar (SD), akan tetapi pada tahun 2014-2015 bangunan ini dikosongkan karena tidak memiliki murid sehingga dengan berbagai pertimbangan akhirnya tempat inilah yang dijadikan sebagai Kantor Kelurahan Pakelan.

Bangunan asli sebagai induk dari Kantor Kelurahan Pakelan berada di bagian tengah ruangan, oleh karena itu bentuk bangunan berbentuk simetris antara depan dan belakang. Sedangkan bangunan yang sekarang dijadikan PAUD, dulu dijadikan sebagai dapur umum saat terdapat acara besar atau rapat. Lantai tingkat dua sebelah timur digunakan sebagai tempat rapat orang-orang Tionghoa, sedangkan halaman belakang yang saat ini digunakan sebagai taman bermain PAUD yang dulunya digunakan untuk latihan bela diri Kungfu dan Barongsai. Selain itu, di bagian halaman belakang juga terdapat ruangan dekat sumur yang sekarang dipergunakan untuk menyimpan perlengkapan jaranan, dulunya digunakan sebagai tempat penyimpanan perlengkapan barongsai.

Bangunan lama terdiri dari ruang inti (bagian tengah), ruang pelengkap (bagian samping ruang inti), kamar mandi belakang bagian utara dan selatan (sebelah sumur), gapura, dan sumur. Adapun beberapa bagian dari bangunan kantor kelurahan ini yang masih asli sejak awal berdirinya bangunan ini, yakni atap beserta langit-langitnya, besi-besi penghias bangunan, beberapa kusen pintu dan jendela, beberapa ornamen penghias ruangan, gorong-gorong pembuangan air, serta cerobong asap di lantai dua sebelah timur. Beberapa renovasi yang telah dilakukan adalah warna pintu, yang dulunya berwarna warna hijau kuning, sekarang dirubah menjadi coklat polos. Beberapa lantai bangunan juga mengalami perubahan yang dulunya marmer, sekarang dirubah menjadi keramik sejak tempat ini dijadikan sekolah dasar, terutama di bagian ruang pelengkap. Namun, bangunan ruang inti (bagian tengah) dan teras depan lantainya masih tetap beralaskan marmer.

Kantor Kelurahan Pakelan

VIHARA METTA MAITREYA

Vihara Metta Maitreya Kediri pertama kali dirintis dan dikembangkan oleh pandita Ong liong Ki pada awal tahun 2511 (tahun 1960). Berawal pada tahun 1956 Ong Liong Kee sering mengunjungi saudara sepupunya dan akhirnya ikut untuk memohon ketuhanan di Vihara Buddha Maitreya Malang dan didiksa oleh Y.A.M.S. Maitreyawera. Berkat kesabaran dan dukungan penuh seluruh umat Buddha Maitreya berupa semangat tenaga dan materi akhirnya tahun 1960 pembangunan vihara berhasil dirampungkan. Peresmian vihara ini dipimpin oleh Y.A.MS. Maitreyawera dengan upacara cukup meriah dan dihadiri oleh para pendeta dan umat dari berbagai kota di Jawa timur. Setelah diresmikan, Y.A.MS. Maitreyawera langsung menginstruksikan empat pandita senior untuk berkarya di vihara Kediri yaitu pandita Ong Sing Yam, Pandita Liem See Eng, Pandita Ong Tak Leng. Selain selain itu Y.A.MS. Maitreyawera turut meluangkan waktu untuk membimbing Wadah Ketuhanan Kediri.

Pada tahun 1962 Ong Liong Khee diangakat menjadi Pandita oleh Y.A. MS Maitreyawira. Di bawah bimbingan Pandita Ong Liong Kee Vihara Kediri semakin berkembang jaya yang ditandai dengan semakin banyak umat kedatangan memohon ketuhanan. Banyak di antara mereka yang kemudian turut menegakkan ikrar vegetarian. Pandita Ong Liong Khee wafat pada tahun 1985 dalam usia 69 tahun.Setelah Padita Ong  Liong Khee meninggal, Korda 1  menunjuk Pandita Giri Kasih sebagai Pembina Vihara Kediri. Dikarenakan usia yang sudah lanjut dan kondisi kesehatan yang mulai menurun, maka atas restu Korda 1 MAPANBUMI, akhirnya tugas pembinaan VIHARA Kediri diserahkan kepada Pandita Haris Amerta pada tahun 1998.

Untuk menampung jumlah umat yang semakin banyak maka pada tahun 2001 dilaksanakan proyek pemugaran vihara. Untuk kepengurusan saat ini, Vihara Budha Maitreya dipimpin oleh Bapak Suhendro.

Vihara Metta Maitreya Kediri

KEHADIRAN SUSTER PUTERI KASIH DI KEDIRI

Rumah Provinsialat :  Jl. Brawijaya 63 Kediri

 Suster Puteri Kasih, para Biarawati Katolik, telah hadir di Kediri sejak tahun 1934,  meskipun dalam sejarah kehadiran mereka di Indonesia tercatat untuk pertama kalinya tiba di Surabaya pada tahun 1931, dengan tiga suster pertama, yaitu Sr. Andrea van de Laak, PK;  Sr. Henriette Auerbach,PK; dan  Sr. Amelia Kerhofs, PK. Para Suster Puteri Kasih berkarya dalam bidang pendidikan, sosial dan Kesehatan untuk membantu kesejahteraan banyak orang terutama mereka yang sangat membutuhkan pertolongan. Seperti sejak awal kehadiran mereka di Surabaya atas undangan Mgr. Dr. Theophile de Backere CM, Prefek Apostolik pertama di Surabaya, mereka memenuhi permintaan untuk melayani anak-anak di Panti Asuhan Don Bosco yang sudah diawali oleh Romo Ter Veer CM, sebuah karya sosial yang cukup besar, menolong banyak anak yang tidak mendapatkan perawatan orang tuanya, sempat tercatat pernah merawat 220 anak pada tahun 1940an. Karena situasi perang,  tempat perawatan sempat berpindah-pindah.  Saat ini karya Panti Asuhan Don Bosco beralamat tetap di Jl. Tidar 115 Surabaya.

Demikian pula kehadiran para Suster Puteri Kasih di Kediri. Mereka memenuhi undangan Romo Van Megen, CM untuk berkarya menolong dan memajukan masyarakat Kediri. Tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih,  pada awal kehadirannya, mereka berkarya dalam bidang pendidikan, sehingga di sebuah gedung tempat mereka tinggal, saat itu di jalan Brawijaya nomor 40 (sekarang Ruko Gris Galeri) selain dipakai untuk rumah para suster atau biara, Gedung itu juga dipakai untuk sekolah dan asrama. Tepatnya, gedung biara mereka disebut sebagai Rumah Susteran Puteri Kasih.

Dalam catatan sejarah, antara tahun 1939/1940 Suster-suster membeli dua bidang tanah yang keduanya juga terletak di jalan Brawijaya, disebelah utara dan selatan jalan. Tanah di sebelah utara jalan akan dipergunakan untuk bangunan sekolah, sedangkan tanah disebelah selatan jalan,  akan dibangun sebuah Rumah Susteran dan asrama.

Dalam perkembangan berikutnya, selama pendudukan Jepang banyak hal berubah. Periode ini disebut sebagai periode gelap bagi Puteri Kasih. Periode gelap yang dimulai tahun 1942-1945. Para suster harus meninggalkan rumah, karena pendudukan Jepang. Beberapa suster harus tinggal di Internir, camp konsentrasi militer Jepang, yang berlokasi di Semarang, dimana di dalam kamp mereka mengalami berbagai penderitaan. Selanjutnya, rumah tersebut digunakan sebagai camp dan menjadi gudang persenjataan Jepang.

Setelah pendudukan Jepang selesai, beberapa suster kembali ke Surabaya dan beberapa suster kembali ke Kediri. Karena sudah tidak bisa tinggal di rumah lama di Jalan Brawijaya 40, mereka tinggal di rumah sewaan, di tempat  dimana sekarang didirikan bangunan kantor BCA.

Tahun 1952 tanah yang berada di seberang rumah pertama di Jl. Brawijaya mulai dalam proses pembangunan. Pada tanggal 15 Maret 1956 diresmikan gedung suster yang terletak di Jl. Brawijaya no. 53 (sekarang no. 63). Rumah inilah yang menjadi rumah pusat suster-suster Puteri Kasih Indonesia, disebut juga sebagai Rumah Provinsialat, rumah Provinsial atau pemimpin dari para Suster Puteri Kasih, dengan pimpinannya yang pertama Sr. Andrea van de Laak, PK sebagai Pemimpin Regio Indonesia. Rumah ini juga diarsitekturi oleh Tuan Estourgie yang berasal dari Belanda, sehingga bangunan tersebut sangat identik dengan bangunan Belanda pada umumnya, yang bercirikan dengan pilar-pilar kokoh dan tebal yang berbentuk banyak lengkungan. Beberapa ornamen seperti lonceng dan peralatan untuk doa dikirim asli dari Belanda.

Selama lebih dari 80 tahun kehadiran Suster Puteri Kasih di Kediri, banyak hal telah disumbangkan oleh para Suster untuk perkembangan kota Kediri, terutama dalam hal pendidikan dan pelayanan kepada mereka yang berkekurangan.  Prioritas pelayanan diberikan kepada mereka yang betul-betul miskin. Menjawab kebutuhan ini dan seiring berjalannya waktu, karya pelayanan Puteri Kasih berkembang di berbagai bidang kehidupan melampaui suku, ras, dan agama. yaitu:

  1. Pendidikan, baik pendidikan formal (TK, SD, SMP) maupun informal (Bimbing belajar untuk anak-anak miskin),
  2. Kesehatan,
  3. Sosial dan Pastoral (Panti asuhan, panti wredha, dll)

Lembaga-lembaga yang dinaungi oleh Serikat Puteri Kasih Provinsi Indonesia adalah Yayasan Santa Louisa. Yayasan ini didirikan tahun 1938 dan Yayasan kesehatan Marta Wieka yang didirikan sejak tahun 2011. Event rutin yang biasa dilaksanakan di Rumah Provinsialat antara lain penerimaan Suster Puteri Kasih; Perayaan 25, 40, 50, 60 tahun panggilan menjadi suster Puteri Kasih; juga pertemuan bina lanjut para Suster.

Beberapa pelayanan Puteri Kasih di Kediri, khususnya Komunitas Santa Louisa yang ada di Rumah Pusat, Kelurahan Pakelan, di antaranya adalah pelayanan Pendidikan dan sosial pastoral. Dimana ada 3 sekolah yang dinaungi yaitu KB dan TK Katolik Santa Maria, SD Katolik Santa Maria dan SMP Katolik Santa Maria yang semuanya berlokasi di Jalan Brawijaya. Selain itu pelayanan sosial pastoral seperti pelayanan tambah gizi untuk para lansia dan janda setiap hari Kamis, juga kunjungan rumah yang dilakukan oleh para Suster sebagai pastoral kehadiran atau pendampingan kepada keluarga-keluarga miskin di sekitar susteran.

Tidak ada kemiskinan yang asing bagi para Suster Puteri Kasih. Seperti yang diharapkan oleh para Pendiri yang mengatakan: “Kalian harus siap melayani Orang-orang Miskin di mana saja kalian akan diutus: di antara pasukan-pasukan, seperti telah kalian lakukan ketika kalian dipanggil ke sana, di antara para penjahat yang miskin, dan pada umumnya di segala tempat yang membutuhkan kalian untuk melayani orang miskin, karena inilah tujuan kalian.” (Santo Vinsensius de Paul, 18 Oktober 1655, SV X, 126).

Suster Puteri Kasih
slot gacor demo slot situs toto situs toto https://unila.ac.id/-/ https://binaprajapress.kemendagri.go.id/vendor/thai/ https://binaprajapress.kemendagri.go.id/vendor/demo/ https://binaprajapress.kemendagri.go.id/vendor/toto/ https://binaprajapress.kemendagri.go.id/vendor/scatter/ https://binaprajapress.kemendagri.go.id/vendor/maxwin/ https://binaprajapress.kemendagri.go.id/vendor/apk/ https://binaprajapress.kemendagri.go.id/thai/ slot gacor situs toto bento4d slot gacor slot gacor situs togel slot gacor situs toto toto slot slot gacor situs togel situs toto https://tp.fkip.ulm.ac.id/toto/-/