Kantor Kelurahan Pakelan

Bangunan Kantor Kelurahan Pakelan

Bangunan Kantor Kelurahan Pakelan terletak di Jalan Yos Sudarso (dari depan) dan Jalan Kyai Mojo (dari belakang), Kota Kediri, yang dibangun pada akhir Abad 19 ini tetap kokoh dengan arsitektur khas perpaduan Jawa dengan Tionghoa masa lampau.

Model bangunan kuno yang memiliki empat pilar besar sebagai penopang teras. Kemudian juga ada pemandangan tiga pintu besar berjajar di bagian depan.

Sebelum lebih jauh masuk ke dalam, ada lagi yang unik. Yaitu gerbang masuk utama. Lebarnya hanya sekitar satu setengah meter. Dengan gaya simetris yang berbentuk pagupon. Dengan gerbang yang cukup kecil itu wajar bila bangunan utama tidak tampak bila dilihat dari jalan raya.

Masuk ke bangunan utama, nuansa sejuk mulai terasa. Ventilasi yang lebar membuat sirkulasi udara dalam ruangan tersebut sangat lancar. Lantai bangunan masih menggunakan marmer. Terutama di teras depan. Sedangkan lantai pada bangunan pertama sudah dilapisi keramik putih.

Klenteng Tjoe Hwie Kiong

Klenteng Tjoe Hwie Kiong

Di Kelurahan Pakelan juga berdiri sebuah bangunan cagar budaya dan tempat ibadah bagi pemeluk Tri Dharma yang masih cukup megah yang bernama Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Klenteng ini terletak di Jalan Yos Sudarso No. 148 RT.15 RW.03 Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur. Lokasi klenteng ini berada di tepi Sungai Brantas, persis di tikungan Jalan Yos Sudarso. 

Klenteng Tjoe Hwie Kiong dibangun pada tahun 1895 oleh warga Tionghoa yang telah bermukim di Kediri. Mereka menggalang dana dengan menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk mewujudkan tempat ibadah pada waktu itu. Pada waktu itu, banyak orang Tionghoa yang berasal dari Fujian, Tiongkok yang meninggalkan negerinya untuk mengadu nasib di tempat lain. Termasuk di antaranya ada yang menuju ke Kediri melalui Sungai Brantas.

Sebelum masuk bangunan utama, tepat di depan pintu terdapat Hiolo (tempat menancapkan hio) yang terbuat dari kuningan. Di sebelah kiri dan kanan pintu masuk ada kan chuang (jendela rendah yang dapat memberikan pemandangan keliling dan berbentuk bulat. Di atas wuwungan, terlihat huo zhu (mutiara api berbentuk bola) ditaruh di atas kepala orang dan diapit oleh dua xing long (naga berjalan). Sedangkan, di kanan di depan bangunan utama terdapat kim lo (tempat pembakaran kertas persembahyangan).

Lanjut ke dalam, akan dijumpai beberapa altar untuk memuja para dewa, di antaranya altar Tri Nabi Agung. Altar sebelah kiri yang berlogo Yin-Yang berisi rupang Lao Tze yang digunakan sebagai altar pemujaan penganut Tau. Di tengah ada altar berlogo Swastika berisi rupang Buddha Sakyamuni yang diperuntukkan bagi penganut Budda, dan yang di sebelah kanan berupa altar berlogo Genta adalah rupang Kong Hu Cu yang digunakan bagi penganut Kong Hu Cu.

Keluar dari bangunan utama searah mata memandang ke barat, Anda akan melihat bangunan mirip rumah panggung berukuran kecil bercat merah. Panggung ini digunakan untuk pertunjukkan wayang potehi. Anda bisa menonton sambil duduk yang telah disediakan oleh pengurus klenteng. Wayang ini akan dilakonkan pada sore (15.00 WIB – 17.00 WIB) maupun malam hari (19.00 WIB-21.00 WIB) tapi tidak setiap hari. Pagelaran wayang Potehi ini berdasarkan pemesanan dari jemaatannya.